Rabu, 07 April 2010

Makalah Kesehatan : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI JAWA TENGAH: IMPLIKASINYA TERHADAP KEBIJAKAN DAN LAYANAN KESEHATAN SEKS

Indonesian youth nowadays have been experiencing an increasing vulnerability to various kind of health hazards specially related to reproductive and sexual health, including the growing threat of HIV/AIDS. This paper reports on findings from a study undertaken during the year 2003-2004 among urban youth in Central Java. The study seeks to identify factors influencing youth sexual behavior and their need for services, in order to derive practical policy for enhancing youth sexual and reproductive health services. The study involved a total of 2000 samples derived from a youth population, aged 18-24 years old. A group of 1000 samples was randomly selected from a working youth population through factory employers, whereas the other 1000 samples were from middle class youth among university students. Social learning theory was applied as a base of the conceptual framework of the study with quantitative surveys and qualitative methods The findings showed that the overall pattern of sexual and reproductive youth health risk were relatively low in comparison to that in many other countries, which was partly related to distinctive and positive characteristics of the culture of the community in Central Java. The findings also showed that self efficacy was the strongest influencing factor on youth sexual behavior. Future policies and program development should be addressed to the ways in maintaining young people�s positive norms and values in line with the existing culture and religion by enhancing their self efficacy through school-based sexual and reproductive health education and services. Advocacy should also be used continuously to address environmental constraints that impede the adoption of healthy reproductive health behavior.

Abstrak

Remaja Indonesia saat ini sedang mengalami peningkatan kerentanan terhadap berbagai ancaman risiko kesehatan terutama yang berkaitan dengan kesehatan seksual dan reproduksi termasuk peningkatan ancaman dari HIV/AIDS. Artikel ini membahas temuan penelitian yang dilakukan pada kurun waktu 2003-2004 terhadap remaja perkotaan di Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai faktor yang berpengaruh terhadap perilaku seksual remaja dan kebutuhan akan layanannya, dalam rangka memberikan arahan kebijakan untuk meningkatkan layanan kesehatan seksual dan reproduksi remaja. Penelitian ini merupakan jenis penelitian penjelasan (explanatory research) dengan pendekatan belah lintang, melibatkan 2000 sampel remaja perkotaan usia 18-24 tahun yang berasal dari dua latar belakang sosial demografi yang berbeda di Propinsi Jawa Tengah. Masing-masing 1000 sampel diambil secara acak dari populasi kaum remaja yang bekerja dengan pendapatan rendah di pabrik, dan populasi kaum remaja kelas menengah dari para mahasiswa di perguruan tinggi. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode survei (wawancara dan angket/self administered). Teori Social Learning digunakan sebagai kerangka kerja analisis penelitian ini. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum pola risiko terhadap kesehatan seksual dan reproduksi pada remaja relatif rendah dibandingkan dengan negara lain. Hal ini diantaranya berhubungan dengan adanya karakter budaya di Jawa Tengah yang positif. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa faktor percaya diri merupakan faktor pengaruh yang paling kuat terhadap perilaku seksual remaja. Pengembangan kebijakan dan program yang mendatang seyogyanya ditujukan untuk mempertahankan nilai dan norma yang positif dari remaja, dengan meningkatkan rasa percaya diri mereka melalui layanan dan pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi yang berbasis pada sekolah.

Landasan Teori Dalam an Model Pengajaran

Ringkasan isi
I. TEORI BELAJAR SOSIAL


Teri belajar sosial yaitu cara belajar meniru prilaku orang lain dan pengalkaman vicarius,yaitu belajar dari keberhasilan dan kegagalan orang lain.Bandura menjelaska teori inisebagain berikut:
1. Sebagian besar yang dialami oleh manusia tidak dibentuk dari konsekwensi melainkan manusia itu belajar dari suatu model (contoh )
2. Sebagian besar orang belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain.

Lebih lanjut bandura mengungkapkan bahwa:
“Belajar sangat menghasilkan waktu dan tenaga bahkan berbhaya jika manusia neggantungkan diri sepenuhnya pada hasil kegiatannya sendiri.ini memebentuk perhatian bahwa bagaimana sesungguhnya melakukan tingkah laku baru,dan pada kesmpatan berikutnya.informsi yang telah dikodekan berfungsih sebagai pemandu untuk tindakan,karna manusia dapat belajar dari model (Contoh )

Seperti yang dikembangakan oleh Hull,Bandura dan Walters juga menyatakan bahwa :
“ Kalau seseorang melihat suatu rangsang dan suatu model beraksi secara tertentu terhadap rangsangan itu,maka dalam khyalan orang btersebut terjadi serangkaian simbol – simbol yang menggambarkan dari tingka laku vbalas tersebut”

Pengaruh tingka laku model pada tingka laku peniru menurut Bandura dan Walter ada tiga macam, yaitu:

1. Efek modeling peniru melakukan tingkah laku melalui asosiasi dengan tingkah laku model
2. Efek menghambat dan menghapus hambatan .yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkalaku model dihapuskan hmbatanya sehingga timbul tingka laku yang dapat menjadi nyata.
3. Efek kemudahan dimana tingkalau yang sudah pernah dipelajari peniru lebih mudah muncul kembali dengan mengamati tingkalaku model.
Aplikasi dari teori ini adalah tercermin dari aplikasi model pengajaran langsung .

A. Fase perhatian
Fase pertama dalam belajar obeservasional (pemodelan) adalah memberikan perhatian pada suatu model,misalnya seseorang memberikan perhatian pada model yang menarik,populer,atau yang dikagumi.

B. Fase Retensi
Bertanggung jawab atas penkodean tingkalau model; dan penyimpsng kode – kode itu dalam ingatan.yang dimaksud dengan pengkodean adalah proses pengubahan pengalaman yang diamati menjadi kode memori,arti penting dalam fase ini adalah bahwa sipengamat tidak aka dapat memeperoleh manfaat dari tingkah laku yang diamati ketika model tidak hadir,kecualiu apabila tringlka loaku itu dikodedan disimpan dalam ingatan untuk digunakan pada waktu kemudian.

C. Fase Produksi
Dalam fase ini bayangan atau kode – kode dalam memori membimbing penampilan yang sebenarnhya dari tingka laku yang diamati fase produksi mengisinkam model untuk melihat apakah komponen – komponen suatu urutan rtingkah laku telah dikuasai oleh pengamat,untuk memstikan sikap positif terhadap perkembangan baru

D. Fase motivasi
Fase motivasi merupakan fase terakhir dari proses belajar observasional,dimana sipengamat akan meniru suatu model apabila mereka merasa bahwa dengan berbuat seperti model mereka akan memperolah penguatan.dalam kelas fase motivasi yaitu berupa pujian atau angka untuk penyusuaian dengan model. (guru).

PANDUAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar merupakan kurikulum hasil refleksi, pemikiran, dan pengkajian ulang dari kurikulum yang telah berlaku sebelumnya. Kurikulum baru ini diharapkan dapat membantu mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan di masa depan. Standar kompetensi dan kompetensi dasar diarahkan untuk memberikan keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam kondisi yang penuh dengan berbagai perubahan, persaingan, ketidakpastian, dan kerumitan dalam kehidupan. Kurikulum ini disusun untuk menciptakan tamatan yang kompeten, cerdas dalam membangun integritas sosial, serta mewujudkan karakter nasional.

Dalam implementasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, telah dilakukan berbagai studi yang mengarah pada peningkatan efisiensi dan efektivitas layanan dan pengembangan sebagai konsekuensi dari suatu inovasi pendidikan. Sebagai salah satu bentuk efisiensi dan efektivitas implementasi kurikulum dikembangkan berbagai model implementasi kurikulum.

Model pembelajaran terpadu merupakan salah satu model implementasi kurikulum yang dianjurkan untuk diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan, mulai dari tingkat Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) sampai dengan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA). Model pembelajaran ini pada hakikatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996:3). Pembelajaran ini merupakan model yang mencoba memadukan beberapa pokok bahasan (Beane, 1995:615).

Melalui pembelajaran IPA terpadu, peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan menerapkan konsep yang telah dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara menyeluruh (holistik), bermakna, otentik dan aktif. Cara pengemasan pengalaman belajar yang dirancang guru sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman bagi para peserta didik. Pengalaman belajar yang lebih menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual akan menjadikan proses belajar lebih efektif. Kaitan konseptual yang dipelajari dengan sisi bidang kajian Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang relevan akan membentuk skema kognitif, sehingga anak memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Perolehan keutuhan belajar IPA, serta kebulatan pandangan tentang kehidupan, dunia nyata dan fenomena alam hanya dapat direfleksikan melalui pembelajaran terpadu.

Pembelajaran terpadu dalam IPA dapat dikemas dengan TEMA atau TOPIK tentang suatu wacana yang dibahas dari berbagai sudut pandang atau disiplin keilmuan yang mudah dipahami dan dikenal peserta didik. Dalam pembelajaran IPA terpadu, suatu konsep atau tema dibahas dari berbagai aspek bidang kajian dalam bidang kajian IPA. Misalnya tema lingkungan dapat dibahas dari sudut makhluk hidup dan proses kehidupan, energi dan perubahannya, dan materi dan sifatnya. Pembahasan tema juga dimungkinkan hanya dari aspek makhluk hidup dan proses kehidupan dan energi dan perubahannya, atau materi dan sifatnya dan makhluk hidup dan proses kehidupan, atau energi dan perubahannya dan materi dan sifatnya saja. Dengan demikian melalui pembelajaran terpadu ini beberapa konsep yang relevan untuk dijadikan tema tidak perlu dibahas berulang kali dalam bidang kajian yang berbeda, sehingga penggunaan waktu untuk pembahasannya lebih efisien dan pencapaian tujuan pembelajaran juga diharapkan akan lebih efektif.


B. Tujuan
Tujuan penyusunan Model Pembelajaran IPA Terpadu untuk SMP/MTs ini pada dasarnya untuk memberikan pedoman yang dapat dijadikan sebagai kerangka acuan bagi guru dan pihak terkait. Secara rinci, penyusunan model ini di antaranya bertujuan untuk:
1. memberikan wawasan bagi guru tentang apa, mengapa, dan bagaimana pembelajaran IPA terpadu pada tingkat SMP/MTs;
2. memberikan bekal keterampilan kepada guru untuk dapat menyusun rencana pembelajaran (memetakan kompentensi, menyusun silabus, dan menjabarkan silabus menjadi rencana pelaksanaan pembelajaran) dan penilaian;
3. memberikan bekal kemampuan kepada guru agar memiliki kemampuan melaksanakan pembelajaran IPA terpadu;
4. memberikan wawasan, pengetahuan, dan pemahaman bagi pihak terkait (misalnya kepala sekolah dan pengawas), sehingga mereka dapat memberikan dukungan terhadap kelancaran dan ketepatan pelaksanaan pembelajaran IPA terpadu.


C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup penyusunan Model ini meliputi pengertian IPA Terpadu, Karakteristik Pembelajarn IPA Terpadu, pelaksanaan pembelajaran IPA Terpadu dan penilaian di kelas sehingga dicapai tujuan yang diinginkan.

Pembelajaran IPA secara terpadu harus menggunakan tema yang relevan dan berkaitan. Materi yang dipadukan sebaiknya masih dalam lingkup bidang kajian IPA.

Tema yang dibahas disajikan dalam konteks IPA-lingkungan-teknologi-masyarakat, yang melibatkan aktivitas peserta didik secara berkelompok maupun mandiri. Aktivitas peserta didik perlu ditunjang oleh media pembelajaran yang memadai, agar peserta didik dapat memahami tema secara komprehensif dan mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.

D. Sistematika

Model Pembelajaran IPA Terpadu memuat beberapa keterpaduan antar-Kompetensi Dasar. Model ini juga mencakup apa dan bagaimana seorang guru di SMP/MTs mengembangkan dan melaksanakan model tersebut. Sistematika anduan pengembangan pembelajaran IPA Terpadu SMP/MTs terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut.

Bab satu, merupakan pendahuluan yang memuat penjelasan tentang latar belakang serta pentingnya keberadaan panduan. Selain itu juga mengungkapkan tujuan serta sistematika sajian.

Bab dua, berisi penjelasan tentang kerangka berpikir yang mencakup tentang pengertian, karakteristik, tujuan, konsep keterpaduan IPA, dan model keterpaduan berdasarkan topik.

Bab tiga, berisi tentang strategi pelaksanaan pembelajaran IPA Terpadu, yang menjelaskan tahapan tentang perencanaan (meliputi pemetaan Kompetensi Dasar, pemilihan topik, penjabaran Kompetensi Dasar ke dalam indikator, penyusunan silabus, dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran), pelaksanaan pembelajaran (meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan akhir serta tindak lanjut), dan penilaian.

Bab empat, berisi tentang implikasi pembelajaran IPA Terpadu yang menjelaskan peran guru, siswa, serta sarana dan prasarana pembelajaran.

Selasa, 06 April 2010

Chord beagea sendiri lagi

Chord beagea sendiri lagi

[intro] D Em A D

beagea sendiri lagi

D Em
Akhirnya ku sendiri lagi
A D
Setelah lewati hariku dengannya
D Em
Akhirnya ku termenung lagi
A D
Cinta berlalu begitu saja
Chord sendiri lagi

[intro] D Em A D A
Chord lagu beagea sendiri lagi

D Em
Tak pernah ku dapat yang setia
A D
Apa karena ku tidak sempurna
D Em
Selalu saja aku yang salah
A D A
Dan akhirnya aku yang menderita

Chord beagea sendiri lagi

[chorus]
D Bm Em
Lagi dan akhirnya ku sendiri lagi
A F#m
Karena kekasihku yang pergi
Bm Em
Meninggalkan sejuta kerinduan
A
Yang masih terpendam
Chord sendiri lagi beagea

D Bm Em
Perih yang membuat hatiku sakit lagi
A F#m
Karena pergi dan tak kembali
Bm Em
Meninggalkan sejuta kerinduan
A
Yang masih terpendam

[interlude] D
Bm Em A D 3x Bm Em DMaj7

kord beagea sendiri lagi

Bm Em A D
Sedih kisah cintaku ini
Bm Em A D
Rapuh hatiku saat ini
Bm Em A D
Sedih jalan cintaku ini
Bm Em A
Dan akhirnya yang terjadi kini

Chord beagea sendiri lagi

Minggu, 04 April 2010

musik underground adalah musik bawah tanah yg tdk smua orang tau.karena musik ini tdk komersil.musik ini terlalu keras.jadi sangat berbahaya bisa merusak telinga anda.tp bagi mereka yg mngerti,musik ini enak utk didengar.